Tsunami Aceh 2004 , Murni bencana , ataukah rekayasa ?


Tsunami adalah salah satu bencana paling mengerikan yang menimpa daratan yang dekat dengan pantai , Tsunami sendiri berasal dari kosa kata Jepang , seperti yang kita ketahui bahwa Jepang adalah salah satu negara yang memilki tingkat terjadinya gempa yang tinggi.
Namun Indonesia sendiri pernah mengalami bencana tersebut ya, Tsunami Aceh yang tepatnya terjadi pada tanggal 26 Desember 2004.
Tsunami yang diawali dengan gempa berkekuatan 9 SR ini membuat naiknya air ke permukaan sehingga terjadi Tsunami yang sangat
dahsyat.Tsunami Aceh sendiri termasuk salah satu Tsunami terbesar di dunia.Namun mayoritas orang berpendapat bahwa sebenarnya ada faktor - faktor kesengajaan yang menimbulkan salah satu bencana terbesar ini.

1.Uji Coba thermonuklir Amerika.
Salah satu konspirasi yang paling berkembang adalah , senjata thermonuklir yang diujicobakan oleh Amerika pendapat ini juga mendukung penjelasan mengapa korban - korban tsunami Aceh ini terbujur kaku dan dengan cepat kulit berubah menjadi hitam pekat.Karna sebenarnya korban yang tenggelam tidak akan berubah warna kulitnya secepat yang terjadi pada korban tsunami Aceh ini.

2.Hal yang ditutup - tutupi oleh Amerika.
Kapal - kapal perang Amerika dengan cepat datang ke Indonesia , entah karna untuk menolong atau , menutup - nutupi agar peneliti Indonesia tidak meneliti apa yang sebenarnya terjadi.Teori ini juga didukung dengan ditemukannya sampah nuklir 2 bulan pasca Tsunami Somalia yang diduga berasal dari Samudra Hindia.

3.Kaitan Tsunami Aceh dengan HAARP.
HAARP atau yang lebih dikenal sebagai senjata pemusnah massal terbaru atau juga dengan tujuan lain, seperti menciptakan sebuah bencana yang dahsyat , HAARP juga sering dikaitkan dengan tsunami Aceh 2004 lalu ini.HAARP ini berada di Alaska - Ameika Serikat.

Semua bencana itu datang nya dari Tuhan , baik secara alami maupun efek dari manusia sendiri dan setiap kejadiannya pasti ada hikmah yang dapat diambil.

Refrensi 1 Refrensi 2 Pict

Fan Page

Powered by Blogger.

Iklan